www.wartaPolri.id – JAMBI, 17 April 2026 – Enam bulan menghilang bak ditelan bumi usai aksi nekat melompat dari lantai 2 Mapolda Jambi dengan tangan terborgol, sosok yang diklaim sebagai Alung, gembong narkoba 58 kg, akhirnya dipamerkan ke publik hari ini. Namun, alih-alih mendapat apresiasi, rilis pers yang dipimpin langsung oleh Polda Jambi ini justru dibanjiri kecurigaan dan dituding hanya sebagai “sandiwara seremonial”.

Masyarakat Jambi kini bertanya-tanya: Apakah yang berdiri di depan kamera itu benar-benar Alung sang mafia, ataukah hanya ‘pemeran pengganti’ yang dijadikan tumbal demi meredam gejolak publik?
Pihak Polda Jambi mengklaim bahwa Alung diringkus di wilayah Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Secara logika, penangkapan bandar narkoba terbesar di Jambi dengan jaringan internasional seharusnya memicu kegemparan luar biasa.
Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Salah seorang warga Kuala Tungkal yang juga merupakan aparat dinas di sana mengungkapkan keheranannya.
“Sangat mustahil sekelas Alung ditangkap di sini tapi kami masyarakat dan aparat lokal tidak mendengar desas-desus atau pergerakan besar. Biasanya kalau ada penangkapan bandar, kota ini geger. Ini seperti klaim sepihak yang tidak punya jejak di masyarakat,” ujarnya.
Logika publik pun berontak: Bagaimana mungkin seorang mafia besar dengan jaringan luas memilih bersembunyi selama 6 bulan di wilayah yang relatif sempit seperti Tungkal tanpa terdeteksi warga?
Logika publik pun berontak: Bagaimana mungkin seorang mafia besar dengan jaringan luas memilih bersembunyi selama 6 bulan di wilayah yang relatif sempit seperti Tungkal tanpa terdeteksi warga?
Tahi Lalat” yang Tiba-Tiba Muncul
Kejanggalan visual yang paling fatal adalah perbedaan fisik tersangka. Sebelum melarikan diri, Alung dikenal tidak memiliki ciri khusus di bagian leher. Namun, dalam rilis pers hari ini, sosok yang dihadirkan justru memiliki tahi lalat yang sangat jelas di lehernya. Perubahan anatomi ini memperkuat dugaan adanya praktik “tukar kepala” atau penggunaan tumbal untuk menutupi kegagalan kepolisian dalam menangkap Alung yang asli.
Ke mana 2 Koper Sabu? Kapolda Pilih “Main Belakang”
“Skandal transparansi semakin memanas saat sesi tanya jawab mengenai barang bukti. Dari total 58 kilogram sabu, meja rilis hanya menampilkan 4 koper. Ketika awak media mencecar keberadaan 2 koper lainnya, jawaban Kapolda Jambi justru memicu kecurigaan adanya “permainan” di balik layar.
“Kalau Anda ingin tahu, nanti bicara langsung dengan saya di ruangan,” jawab Kapolda dengan nada tertutup.
Sikap tidak transparan ini memicu spekulasi liar: Apakah sisa barang bukti tersebut masih ada, ataukah sudah “diuangkan”? Mengapa sebuah fakta publik harus dibicarakan di ruang tertutup?
Indikasi “Setoran” dan Kinerja yang Dipertanyakan
Masyarakat Jambi kini melontarkan kritik pedas. Muncul dugaan menakutkan bahwa sang bandar besar mungkin telah memberikan “upeti” atau setoran kepada oknum petinggi di Mapolda Jambi sehingga ia tetap bebas, sementara polisi sibuk mencari seseorang yang mirip untuk dijadikan tumbal hukum.
“Jika memang benar Polda Jambi bekerja profesional, tunjukkan bukti otentik identitasnya dan gelar barang buktinya secara utuh di depan umum. Jangan ajak wartawan bicara di ruangan gelap,” tulis salah satu komentar pedas di media sosial yang viral hari ini.
Rilis pers hari ini bukan mengakhiri kasus, melainkan membuka kotak pandora mengenai integritas penegakan hukum di Jambi. Jika benar sosok tersebut adalah tumbal, maka hukum di Jambi sedang berada di titik nadir. Publik kini menunggu keberanian institusi di atas Polda untuk mengaudit kasus ini secara transparan.
Siapa sebenarnya pria bertahi lalat itu? Dan di mana Alung yang asli bersama 2 koper sabu yang hilang? Jambi menuntut jawaban jujur.












