www.wartaPolri.web.id – MERANGIN // Aroma tidak sedap kembali menyengat dari balik seragam cokelat. Integritas penegakan hukum di wilayah hukum Polres Merangin kini berada di titik nadir setelah mencuatnya bukti-bukti baru terkait dugaan “main mata” antara mantan Kasat Reskrim, AKP ML, dengan mafia Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Komitmen pemberantasan tambang ilegal di Kecamatan Jangkat diduga hanyalah sandiwara. Hal ini diperkuat dengan beredarnya tangkapan layar (screenshot) percakapan ponsel yang diduga melibatkan AKP ML. Dalam pesan singkat tersebut, sang perwira diduga membocorkan rencana razia besar-besaran kepada salah satu pelaku PETI.
“Segera singkirkan alat berat, tim besar mau masuk,” demikian kira-kira pesan peringatan yang dikirimkan. Alhasil, razia yang dipimpin langsung oleh AKP ML tersebut diduga telah dikondisikan agar para pemain utama bisa melenggang aman sebelum petugas tiba di lokasi.
Misteri Butiran Emas dalam Botol
Bukan hanya soal bocornya razia, publik juga dihentakkan oleh video viral yang merekam penangkapan seorang terduga pelaku PETI di lokasi yang sama. Dalam rekaman tersebut, jelas terlihat petugas mengamankan botol berisi butiran emas (pentolan) hasil tambang.
Namun, kabar mengejutkan menyebutkan bahwa pelaku tersebut diduga kuat dilepaskan oleh AKP ML di tempat. Yang menjadi pertanyaan besar: Ke mana perginya butiran emas tersebut? Apakah barang bukti bernilai tinggi itu masuk ke kantong pribadi atau sengaja “diamankan” tanpa kejelasan prosedur hukum?
Meski AKP ML sempat mengamankan dua unit alat berat merk Hitachi, kuat dugaan itu hanyalah upaya tebang pilih. Alat yang disita disinyalir milik pihak yang tidak terafiliasi dengannya, sementara alat berat milik kolega dekatnya diduga aman berkat informasi bocoran tersebut.
Dugaan praktik lancung ini seolah mengonfirmasi catatan merah AKP ML di masa lalu. Berdasarkan informasi yang dihimpun, ia dikabarkan pernah diperiksa oleh Mabes Polri terkait hilangnya barang bukti alat berat di wilayah konsesi PT Jebus, Nalo Tantan kasus yang juga menyeret eks Kapolsek dan Kanit Buser Aiptu TP.
Menanti Nyali Kapolda Jambi
Sangat ironis melihat pejabat dengan rekam jejak penuh polemik ini masih bisa tampil percaya diri di jajaran Polda Jambi. Muncul spekulasi liar di tengah masyarakat bahwa pundi-pundi dari hasil tambang ilegal masif ini diduga digunakan sebagai “pelicin” untuk mengamankan jabatan dan menutupi sanksi hukum.
Kini, bola panas ada di tangan Kapolda Jambi. Masyarakat menuntut transparansi total dan tindakan tegas terhadap oknum pejabat yang diduga menjadi pelindung tambang ilegal.
Publik menunggu: Apakah hukum akan tegak lurus, atau justru kalah oleh kekuatan pundi-pundi ilegal?








