Dibalik Bungkamnya Aktivis: Benarkah Aliran Dana Narkoba ‘Jinakkan’ Rencana Demo di Mapolda Jambi?

www.wartaPolri.web.id – JAMBI, 17 April 2026 – Publik Jambi tidak hanya disuguhi teka-teki “pria bertahi lalat” dalam rilis pers tersangka Alung hari ini, namun juga dihadapkan pada fenomena ganjil di jalanan. Sejumlah aliansi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sebelumnya berapi-api menyuarakan aksi demonstrasi besar-besaran di Mapolda Jambi, mendadak “tiarap” dan membatalkan aksi mereka tanpa alasan yang jelas.

Suara Rakyat yang Mendadak Senyap

Pembatalan aksi damai secara serentak ini memicu kecurigaan liar. Muncul indikasi kuat bahwa kekuatan uang dari jaringan narkoba 58 kg telah merambah jauh ke dalam struktur lembaga sosial masyarakat. Berembus kabar di kalangan internal aktivis bahwa ada aliran dana segar yang dikucurkan sebagai “uang peredam” agar kritik terhadap Kapolda Jambi dan jajarannya mereda.

“Sangat janggal. Persiapan sudah matang, isu sudah panas, tapi tiba-tiba semua koordinator lapangan menarik diri. Muncul dugaan bahwa integritas sebagian rekan-rekan kita telah ‘dibeli’ oleh kepentingan bandar,” ujar seorang pengamat sosial di Jambi yang memantau pergerakan aliansi tersebut.

Integritas LSM dalam Sorotan

Masyarakat kini mempertanyakan fungsi kontrol sosial yang seharusnya diemban oleh lembaga-lembaga tersebut. Dugaan bahwa uang hasil bisnis haram digunakan untuk menyuap aliansi agar tidak turun ke jalan menjadi tamparan keras bagi demokrasi di Jambi.

Jika benar aliran dana narkoba telah berhasil membungkam para aktivis, maka penegakan hukum di Jambi benar-benar sedang berada dalam kepungan mafia yang mampu mengatur siapa yang boleh bicara dan siapa yang harus diam.

Kejanggalan Rilis Pers: Antara ‘Tumbal’ dan 2 Koper Misterius

Bungkamnya para aktivis ini terjadi tepat saat publik membutuhkan suara mereka untuk mengkritisi rilis pers Alung yang penuh kejanggalan. Sosok tersangka yang dihadirkan hari ini memiliki ciri fisik berbeda terutama munculnya tahi lalat di leher yang tidak ada pada sosok Alung saat pertama kali ditangkap.

Ketidakjelasan ini ditambah dengan sikap tertutup Kapolda Jambi mengenai hilangnya 2 koper sabu dari total 58 kg barang bukti. Alih-alih memberikan penjelasan transparan di depan kamera, Kapolda justru meminta awak media untuk membahasnya di “ruang tertutup”.

Masyarakat Melawan Sendiri?

Tanpa pengawalan dari aliansi dan LSM yang kini disinyalir telah “masuk angin”, masyarakat Jambi kini merasa berjuang sendirian melalui ruang digital.

“Jika aktivis sudah bisa dibeli dengan uang narkoba, kepada siapa lagi rakyat berharap? Polda Jambi harus diaudit total, dan lembaga yang menerima suap harus diekspos identitasnya,” tulis salah satu netizen dalam unggahan yang viral.

Skandal ini bukan lagi sekadar kasus narkoba biasa. Ini adalah ujian bagi integritas institusi kepolisian dan moralitas lembaga masyarakat di Jambi. Publik kini menunggu: apakah akan ada aliansi yang masih memiliki hati nurani untuk tetap bersuara, ataukah semua telah larut dalam aliran dana “setoran” sang gembong besar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *